Kemaren aku makan siang bareng sama orang kantor, seperti biasa, di momen seperti ini kami melakukan banyak bercandaan jorok sampai ngebahas fenomena ekonomi politik di negeri tercinta.
Biasalah, cowok kalo lagi ngumpul omongannya suka ngalor ngidul.
Salah satu pembicaraan kami saat itu adalah tentang kecelakaan kereta yang ada di Bekasi, kecelakaan yang melibatkan 1 buah KRL dan kereta jarak jauh Argo Bromo. Berita terakhir, dalam kecelakaan ini menewaskan tidak kurang dari 5 orang. Kereta Argo Bromo ini menerjang KRL yang sedang berhenti, sialnya di KRL gerbong paling belakang adalah gerbong perempuan.
“Habis ini pasti gerbong perempuan dipindah ke tengah” kata salah satu teman ku.
“Emansipasi-nya manaaaa?” Sahut temanku yang lain.
Sontak kami semua tertawa, sebuah candaan makan siang yang menurut kami semua lucu. Setelah itu kami sahut-sahutan melemparkan jokes-jokes lain yang memecah pembahasan serius siang itu.
Malamnya…

Seketika handphone ku berbunyi, notifikasi instagram masuk dari salah seorang temen makan siang tadi.
“Mas ini serius? Hahahahaha bukanya ini becandaan kita tadi siang?”
Pas aku buka beritanya, astaga, becandaan ku tadi siang bisa jadi kebijakan? Sebentar, ini siapa yang becanda? Nggak mungkin dong pemerintah dengan sekonyong-konyong minta gerbong pria ada di paling belakang karena kecelakaan ini menewaskan banyak wanita?
Gini, kalopun ini bener keluar dari mulut menteri, aku penasaran banget sama struktur pikir si ibu menteri ini. “Daripada wanita yang mati, mendingan cowok yang mati, wanita kan harus dilindungi” nggak mungkin dong doi mikirnya begitu. Ya kan? Nggak mungkin kan? Kalaupun iya, apa mungkin karena beliau adalah menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak maka nyawa laki-laki bukan jadi tanggung jawab beliau?
Hahaha…nggak mungkin kan?
Ya masak kualitas kebijakan negara kita nggak lebih bagus dari bercandaan makan siang ku?