Film ini ngangkat premis dimana dunia ini sudah di dominasi oleh robot yang di embed dengan AI. Pekerjaan-pekerjaan kasar udah diganti oleh AI, perusahaan nggak mau lagi bayar jasa manusia biasa karena dianggap tidak produktif dan terlalu mahal.
Dengan premis sebagus itu, sayang banget si penulis nggak terlalu coba ngulik alur yang agak beda. Ini kerasa kaya distopian movie pada umumnya. Semuanya serba ketebak, jadi nggak ada yang spesial.
Padahal sebagai seorang pekerja di tahun 2026 ini dimana semua perusahaan udah mulai pake AI dan berbondong-bondong mengganti pegawainya karena AI dianggap lebih produktif, cerita dalam film ini jadi relate banget lo.
Desperation kehilangan pekerjaan dan kehancuran sebuah keluarga karena lilitan dan tuntutan ekonomi-nya agak kurang di expose, kerasa cuman jadi pelengkap doang.
Alih-alih milih untuk nge-expose penceritaan tentang desperation si pencari kerja ini, penulisnya malah nge expose desperation seorang wanita yang nunggu untuk dapet transplantasi jantung.
Sayang banget padahal dengan keadaan sekarang, film ini bisa jadi relate banget.